• Marini Amimah

Interior Design of a Contemporary 18-sqm Micro Living Apartment


Back in 2019 we were asked to design two ‘micro apartments’ as a show unit, located in Tangerang, Indonesia. We were quite intrigued because this is a unique project, compared to the hotels and large luxury apartment units that we usually do in the office. So then we set out to prove the main challenge of the project, which is, can we show you how to cook, shower, iron, eat, relax, in such a tight space?

Pada tahun 2019 Insada diminta untuk mendesain dua “apartemen mikro” yang berlokasi di Tangerang, Indonesia. Kami cukup tertarik, karena ini adalah proyek yang termasuk unik, jika dibandingkan dengan hotel dan unit apartemen mewah besar yang biasa kami kerjakan di Insada. Jadi untuk proyek ini kami ingin coba membuktikan apakah mungkin seseorang bisa hidup dengan nyaman di sebuah unit apartemen yang yang kecil.


The first unit is a Studio apartment with a gross area of 18 square meters. The size and dimensions of this unit are designed to accommodate the needs of young professionals. For the interior design, we implemented the Urban Modernist concept to give the aesthetic that imbues youth and professionalism, aligning with the demographic in Tangerang. Colors that were chosen are shades of gray with fine accents of black on the edges and corners.

Unit pertama adalah sebuah studio apartemen dengan luas kotor sebesar 18 meter persegi. Ukuran dan dimensi unit ini didesain untuk mengakomodir kebutuhan profesional muda. Untuk konsep interior, kami menggunakan konsep Urban Modernist untuk memberikan tampilan yang muda dan profesional, sesuai dengan demografi di kota tangerang. Warna didominasi dengan nuansa abu-abu dan aksen linear hitam halus pada bagian tepi dan sudut.




When we enter the Studio unit, we are in the kitchen area where the design challenges immediately begin. To show that this unit is feasible for living, INSADA needed to make sure that not a single square meter is wasted. The compact kitchen area features a fully functional kitchen, a separate spice rack, and a shoe rack. Entering the entry door, on the left is a fully functional kitchen compacted to only 1.6 meters wide. This kitchen is equipped with a 2-burner induction stove, 1 sink, 1 refrigerator, and a small washing machine positioned in a cupboard above the refrigerator. To further complement the function of the kitchen, there is a cutting board, and wine storage that can be pulled out if needed, and a hidden spice rack is located on the opposite wall of the kitchen set. High gloss white lacquer paint is used for the kitchen body, white solid surface for the counter top, and dark gray accent back painted glass as a backsplash. As for the floor material, homogeneous tile material is used so that the kitchen area can be cleaned easily. The doors of the spice rack and shoe rack are covered with wallpaper to get a concealed effect.

Saat memasuki ruangan unit Studio ini, kita akan langsung berada di area dapur dimana tantangan desain langsung dimulai. Untuk menunjukan unit ini layak tinggal, Insada memastikan agar tidak ada satu meter persegi-pun yang terbuang, dan tentu saja setiap detil perlu dipikirkan. Jadi di dalam area dapur ini, terdapat dapur, rak bumbu, dan juga rak sepatu. Memasuki pintu, di sebelah kiri terdapat sebuah dapur yang berfungsi secara penuh dengan hanya lebar 1,6 meter. Dapur ini dilengkapi dengan kompor induksi 2 tungku, 1 wastafel, 1 kulkas, serta mesin cuci kecil yang diposisikan di dalam lemari di atas kulkas. Untuk lebih melengkapi fungsi dapur, terdapat sebuah talenan yang dapat ditarik jika diperlukan, dan rak bumbu yang tersembunyi berlokasi di dinding seberang kitchen set tersebut. Untuk material dapur, digunakan cat lacquer berwarna putih untuk finishing body, solid surface putih untuk counter top, dan accent back painted glass berwarna abu-abu tua sebagai backsplash. Sedangkan untuk material lantai, menggunakan bahan homogenous tile agar area dapur mudah untuk dibersihkan. Pintu dari rak bumbu dan juga rak sepatu ditutup dengan wallpaper agar efek concealed tercapai.


Moving from the kitchen area to the sleeping area, you will pass a 1.4 meters wardrobe. We use glass doors for this wardrobe so that the built in furniture feels light.

Bergerak dari area dapur ke area tidur, penghuni akan melewati lemari pakaian dengan lebar 1,4 meter. Pintu bermaterial kaca kami gunakan untuk lemari pakaian agar materialitas furniture built in terasa ringan.


Behind the kitchen set is the bathroom, which is accessed from the main living area. For the partition between the living and bathroom, we used a sliding glass assembly with a variation of clear and patterned glass with a black frame. This is for multiple reasons; which are to save space, to make the partition appear light, to maximize the space depth perception, and at the same time, to achieve privacy within the bathroom. Despite the limited bathroom space, we managed to get proper dimensions for all the necessary bathroom needs. The space width for the toilet is achieved at a minimum of 800mm, the shower, complete with glass doors is 900 x 950 mm, and to further save space we chose to use a semi-mounted lavatory top, paired with a marble vanity counter. To make sure the space appears bigger, half of the wall on the vanity side of the bathroom is covered with gray glass, embellished with circular clear glass aligned with the lavatory counter. A lavatory faucet is also placed off-center as a space-saving measure within the bathroom. Additionally, we used black painted bent steel as a counter space next to the toilet, fitting for the urban modernist style of the studio.

Berposisi di sebelah dapur adalah kamar mandi, yang dapat diakses dari ruang tidur utama. Untuk partisi antara ruang tidur dan kamar mandi, kami memilih menggunakan pintu geser yang dibuat menggunakan variasi kaca bening dan kaca bertekstur yang diapit oleh bingkai hitam. Ini dikarenakan oleh beberapa alasan; yaitu untuk menghemat ruang, untuk membuat partisi ini tampak ringan, untuk memaksimalkan persepsi ruang dari 1 sisi ke lainnya, dan yang terakhir untuk mendapatkan privasi di dalam kamar mandi. Meskipun ruang kamar mandi terbatas, kami berhasil mendapatkan dimensi yang cukup untuk semua kebutuhan kamar mandi. Lebar ruang untuk toilet didapatkan di minimal 800 milimeter. Area shower, lengkap dengan pintu kaca berdimensi bersih 900 x 950 milimeter. Dimensi ini sangat cukup untuk orang dewasa. Untuk mendapatkan ruang lebih, kami menggunakan semi-mounted wastafel yang dipasangkan dengan vanity counter terbuat dari marmer. Untuk memastikan ruangan tampak lebih besar, separuh dinding di sisi wastafel kamar mandi dilapisi dengan kaca abu-abu, dan juga dihiasi cermin bulat yang dilengkapi dengan LED yang diposisikan on center dengan wastafel. Kran wastafel kami juga ditempatkan tidak di tengah sebagai strategi penghematan ruang di dalam kamar mandi. Untuk lantai dan tembok, kembali menggunakan material homogenous tile dengan urat lurus agar sesuai dengan gaya studio, Urban Modernist.


For the main bedroom space, we placed a proper queen-sized bed in the middle of the room with bedside tables on either side of the bed. This selection is to communicate to the buyers that this space is ample for a proper living despite the seemingly small sqm. Across the bed is the accent wall, spanning 2.9 m, where we designed it to be rich with features; such as a wall-mounted TV, a pull-up dining table, a vanity drawer, and a pull-out ironing table. Furniture in this space is designed to be and to appear light and maintain an uninterrupted view of the ground plane as much as possible. Hence, the bed is lifted from the ground with elegant metal feet instead of the commonly used bed divan. The bedside table is supported by a similar light metal expression as the bed to the ground and also mounted to the wall. Table lamps are hung from the ceiling, reading lamps are mounted to the thinly profiled headboard. Meanwhile, the two chairs and coffee table in the space are also thinly profiled on the edges and meant to be easily moveable, adapting to the exact needs of the inhabitants for that moment, whether it's reading, dining, or more.

Dalam ruang tidur utama, terdapat ranjang berukuran queen di tengah, serta meja kecil di kedua sisi tempat tidur tersebut. Kami memilih untuk tidak menggunakan tempat tidur yang disembunyikan di dinding untuk unit mikro ini, untuk menyampaikan dengan jelas kepada potensial penghuni bahwa ruang ini cukup luas sebagai tempat tinggal layak, walaupun mempunyai square meter yang kecil. Di dinding seberang tempat tidur adalah dinding aksen, membentang 2,9 meter; dimana kami mendesain dinding tersebut agar kaya dengan fitur-fitur seperti TV yang dipasang di dinding, meja makan yang dapat ditarik ke atas jika diperlukan, meja rias, dan juga meja untuk setrika. Pemilihan furnitur di ruang ini adalah furnitur custom yang dirancang untuk menjadi dan bertampak ringan. Tujuannya adalah agar pandangan penghuni kepada bidang lantai tidak terganggu sebisa mungkin, memaksimalkan kesan luas. Oleh karena itu, tempat tidur pun diangkat dari lantai dengan ekspresi kaki ringan terbuat dari metal berwarna hitam yang elegan, bukan dengan dipan tempat tidur yang biasa digunakan. Meja samping tempat tidur juga sama, berdiri dengan ekspresi kaki yang mirip dengan tempat tidur, serta menempel ke sisi dining. Lampu meja digantung ke langit langit agar meja samping tempat tidur bebas digunakan. Lampu baca dipasang di headboard yang memiliki profil tipis. Sementara, ada dua kursi dan meja di dalam ruang ini yang juga dibuat agar memiliki tampilan ramping, tipis; dimaksudkan agar mudah dipindahkan, menyesuaikan dengan kebutuhan penghuni pada saat itu juga, baik itu membaca, makan, atau kebutuhan lainnya.


In terms of materiality, we transitioned our floor from homogeneous tile to engineered wooden parquet floor in this space. This is to introduce a softer surface, a more subdued texture, and overall, a homier feeling, despite this small space. On the walls, we continue the wallpaper finishing where it's necessary, and introduce wooden textures on the accent walls, for a similar purpose as the floors. Final touches to the room were given in the form of artworks and carpet, to give the space a breath of color and life.

Dalam hal materialitas, ada transisi material lantai dari homogeneous tile ke lantai parket kayu di area tidur. Ini untuk memperkenalkan permukaan yang lebih lembut, tekstur yang lebih hangat, secara keseluruhan lebih nyaman meskipun ruangnya yang kecil. Di dinding, finishing wallpaper abu abu dan juga menambahkan tekstur kayu pada dinding aksen; dengan tujuan serupa dengan lantai. Sentuhan akhir pada studio ini diberikan dalam bentuk karya seni terpajang di dinding dan juga karpet; untuk menghembuskan nafas kehidupan ke dalam ruangan.




The second unit that we designed is a one-bedroom apartment unit with approx 22.5 sqm gross. With a difference of 4 sqm compared to the studio unit, this unit has a challenge to fit an additional living room.

Unit kedua yang kami rancang adalah unit apartemen one bedroom dengan luas sekitar 22,5 meter persegi, gross. Dengan perbedaan hanya 4 meter persegi dibandingkan dengan unit studio, unit ini memiliki tantangan tambahan, yaitu untuk menambah fungsi ruang tamu.


To differentiate this unit from the first, we implemented a different concept, different color scheme. We call this style, a timeless style, which draws from the heart of contemporary culture that encompasses the development of design within the 20th century and makes it relevant for today. The furniture features a soft silhouette combined with natural and bold colors on interior finishes and rich textured fabric. It aims to be a space that is long lasting, luxurious, and fresh. Color scheme that we implemented is also more mature, with shades of warm colored wood prominently framing the view frames within the unit. As connective stylistic tissue to the previous unit, we also added black accent lines throughout the unit.

Untuk membedakan unit ini dari yang pertama, kami menerapkan konsep yang berbeda, skema warna yang berbeda, yaitu, Timeless. Yang diambil dari jantung budaya kontemporer dan mencakup perkembangan desain di abad ke-20, dimodifikasi agar relevan untuk perkembangan style di hari ini. Perabotan yang dipilih menampilkan siluet lembut yang dipadukan dengan warna-warna alami dan berani. Kami juga menggunakan kain-kain yang bertekstur sehingga terasa lebih tahan lama, mewah, dan segar. Skema warna yang kami terapkan juga menimbulkan kesan dewasa, dengan nuansa kayu berwarna hangat digunakan untuk membingkai bingkai tampilan di dalam unit. Sebagai unsur penghubung aesthetic kepada unit sebelumnya, kami juga menerapkan garis aksen hitam di beberapa area di unit.


Similar to the studio room, once you enter the front door of the unit, you are in the kitchen space. In this area, we managed to integrate a full kitchen, refrigerator, shoe rack, washing machine, all in a one sided 2.2 m width wall. This frees up the other side of the corridor for entry to the bathroom. We use the glass partition & door assembly to establish separation between kitchen corridor and bathroom. This one-bedroom unit bathroom is also extremely compact, with strategies such as semi recessed vanity, off center faucet, large mirror wall, implemented to ensure this space appears bigger than it is. Goes without saying, minimal standard dimensions discussed in previous are achieved within the bathroom. Both the kitchen and bathroom uses Homogeneous Tile as a floor material, chosen for its budget and ease of maintenance.

Kurang lebih sama dengan unit studio, ketika memasuki pintu depan unit, kita akan berada di ruang dapur. Di area ini, kami berhasil mengintegrasikan dapur yang lengkap dengan kulkas, rak bumbu, rak sepatu, dan mesin cuci, semuanya dalam satu sisi dinding selebar 2,2 meter. Ini membebaskan sisi lain koridor tersebut untuk pintu ke kamar mandi. Partisi & pintu kaca digunakan untuk memisahkan koridor dapur dan kamar mandi. Kamar mandi one-bedroom ini juga sangat kompak, design strategy seperti meja rias semi-recessed, faucet berposisi off center, dinding yang dipasang cermin besar, semua diterapkan untuk memastikan ruang ini tampak lebih besar. Yang pasti, dimensi standar minimal yang dibahas sebelumnya juga tercapai di kamar mandi ini. Baik area dapur maupun kamar mandi menggunakan homogenous tile sebagai material lantai, dipilih karena budget dan kemudahan perawatannya.


Moving inside from the kitchen corridor is the living room and bedroom area, softly separated visually by a decorative partition with a vertical geometric pattern. Despite the small unit size, we are adamant that we represent a proper living area furniture arrangement, complete with a full-sized 2-seater sofa, a coffee table, and a lounge chair. And across the decorative partition is the queen-sized bed. Across the living room seating arrangement is the accent wall, spanning across the living and bedroom area. Similar to the accent wall in the studio unit, this accent wall is also packed with features. To achieve flexibility in entertainment & media, we installed a movable wall with a TV mounted on it that can slide from the living to the bedroom so one can enjoy in either position. Cables necessary for the TV are given extra slack and connected to rail coves on the ceiling. Behind the sliding TV wall in the living room, is a 1,8 m wide working table, pull-up dining table, concealed vanity mirror & storage, and also a pullout ironing rack. Meanwhile, the accent wall on the side of the bedroom features a 1,5-meter wide wardrobe.

Bergerak ke dalam unit dari koridor dapur, adalah ruang tamu dan area kamar tidur, dipisahkan secara visual oleh partisi dekoratif dengan pola geometris vertikal. Meskipun unit berukuran kecil, kami bersikeras untuk menggunakan penataan furniture ruang tamu yang tepat, lengkap dengan 2-seater sofa, coffee table, dan lounge chair. Dan di posisi ruang tidur adalah ranjang berukuran queen. Di seberang posisi sofa ruang tamu adalah dinding aksen, membentang dari ruang tamu ke kamar tidur. Serupa dengan dinding aksen di unit studio, dinding aksen ini juga dikemas dengan fitur. Untuk mencapai fleksibilitas dalam hiburan & media, kami memasang dinding yang dapat bergeser, dengan TV terpasang di atasnya yang dapat bergerak dari ruang tamu ke kamar tidur sehingga orang dapat menikmati di kedua posisi tersebut. Di balik dinding geser TV di ruang tamu, terdapat meja kerja selebar 1,8 m, meja makan tersembunyi yang dapat tarik ke atas jika digunakan, cermin rias yang tersembunyi, dan juga meja setrika. Sedangkan aksen dinding di sisi kamar tidur dilengkapi dengan lemari pakaian selebar 1,5 meter.


Find more about the detail of this project on our Youtube channel:




hamburgermenu-web2.png
insadalogowhite-grey.png