top of page

Arsitektur, Desain Interior dan Konstruksi Berbasis Desain: Memahami Proses INSADA

  • 4 Agu
  • 11 menit membaca

Selama lebih dari tiga dekade, INSADA Integrated Design Team telah mengembangkan solusi arsitektur dan desain interior yang merespons tantangan unik dari setiap proyek. Berdiri sejak 1990, praktik yang berbasis di Jakarta ini telah menyelesaikan lebih dari 200 proyek di berbagai sektor, termasuk healthcare, hospitality, komersial, residensial, workplace, dan mixed-use, bekerja sama dengan berbagai klien nasional maupun internasional. Pengalaman multidisipliner ini, yang telah mendapatkan pengakuan melalui berbagai penghargaan desain nasional dan internasional, membentuk pendekatan INSADA terhadap arsitektur dan desain interior: menyeimbangkan keunggulan desain dengan ketelitian teknis, kelayakan komersial, dan keberlanjutan jangka panjang.


Pengalaman tersebut juga memberikan kami perspektif tertentu mengenai bagaimana desain dan konstruksi dijalankan di Indonesia.


Pembahasan dalam artikel ini merupakan pandangan berdasarkan pengalaman kami bekerja dengan owner, konsultan, dan kontraktor di industri arsitektur, desain interior, dan konstruksi Indonesia. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi seluruh perusahaan design-build atau kontraktor, karena setiap perusahaan memiliki praktik, kemampuan, dan kebutuhan proyek yang berbeda. Sebaliknya, kami ingin menjelaskan sebuah perbedaan yang menurut kami penting dipahami oleh owner: perbedaan antara design-built pendekatan yang berorientasi pada konstruksi namun mencakup desain, dengan pendekatan yang berorientasi pada desain dan dapat berlanjut hingga konstruksi.


Pria berjalan di lobi kantor modern merah; resepsionis di meja. Dinding bertuliskan ZENTARA INTELLIGENCE SECURITY INNOVATION.

Arsitektur, Desain Interior dan Konstruksi: Apa yang Dimaksud dengan “Design-Build”?


Ketika seorang owner mulai mencari perusahaan untuk membantu mewujudkan sebuah bangunan atau interior, salah satu istilah yang sering ditemui adalah “design-build.”


Di Indonesia, istilah ini umumnya merujuk pada perusahaan yang menawarkan layanan konstruksi dan juga tambahan design dalam satu perusahaan. Daripada menunjuk arsitek atau desainer interior dan kontraktor secara terpisah, owner dapat menghubungi satu perusahaan, mengembangkan desain awal, kemudian melanjutkan langsung ke tahap konstruksi.


Daya tarik pendekatan ini cukup jelas. Owner memiliki satu pihak utama untuk berkoordinasi, transisi dari desain ke konstruksi dapat menjadi lebih sederhana, dan owner dapat memperoleh gambaran awal mengenai potensi biaya konstruksi proyek.


Untuk jenis proyek tertentu, pendekatan ini dapat menjadi pilihan yang tepat. Kantor yang relatif sederhana, fasilitas back-of-house, area penyimpanan, retail dengan konsep yang berulang, atau proyek yang lebih mengutamakan kecepatan dan efisiensi daripada desain yang sangat spesifik dapat memperoleh manfaat dari layanan desain dan konstruksi yang terintegrasi.


Namun, ada satu perbedaan penting yang perlu dipahami oleh owner.


Perusahaan yang pada dasarnya adalah kontraktor yang menawarkan jasa desain memiliki pendekatan yang berbeda dengan perusahaan yang pada dasarnya adalah konsultan arsitektur dan desain interior yang juga dapat menangani konstruksi.


Foto proyek akhirnya mungkin terlihat serupa bagi orang awam dan perbedaannya memang tidak selalu mudah terlihat.


Bagi INSADA, perbedaannya proses kami dimulai dari apa yang menjadi pusat dari proses tersebut.


Ruang kantor modern merah-putih dengan tiga pekerja di depan banyak monitor; satu pria berjalan membawa map.

Berorientasi pada Konstruksi atau Berorientasi pada Desain?


Pada dasarnya, perusahaan yang berorientasi pada konstruksi memiliki fokus utama pada pelaksanaan konstruksi. Dan proses deesain menjadi tambahan jalan masuk untuk menawarkan layanan konstruksi tersebut kepada owner.


Hal ini tidak berarti pendekatan tersebut secara otomatis salah. Namun, pendekatan ini dapat memengaruhi bagaimana keputusan dibuat sejak awal dan, khususnya, bagaimana biaya konstruksi ditentukan.


Dalam proses yang berorientasi pada konstruksi, owner dapat menerima konsep, rendering, dan estimasi biaya konstruksi di awal. Hal ini tentu menarik: owner dapat melihat gambaran proyek sekaligus mendapatkan indikasi mengenai berapa besar biaya yang mungkin dibutuhkan.


Permasalahannya, sebuah rendering bukanlah dokumen konstruksi, dan sebuah konsep belum dapat menggambarkan scope konstruksi yang sepenuhnya.


Estimasi konstruksi yang dibuat pada tahap awal dapat mengandung banyak asumsi mengenai material, metode konstruksi, kuantitas, spesifikasi, sistem teknis, dan detail-detail lain.


Ketika dokumentasi belum lengkap, harga secara otomatis tinggi karena mengandung asumsi—dan di mana terdapat asumsi, selalu ada ruang untuk interpretasi.


Bagi owner yang memperhatikan kualitas hasil akhir sekaligus ingin memiliki kontrol terhadap investasinya, hal ini merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Definisi proyek yang belum lengkap dapat membuka peluang terjadinya kompromi terhadap kualitas selama proyek berjalan. Dengan kata lain, harga konstruksi yang terlihat menarik di awal belum tentu mencerminkan biaya sebenarnya untuk menghasilkan proyek dengan kualitas, spesifikasi, dan design intent seperti yang pada akhirnya diharapkan oleh owner.


Inilah salah satu alasan kami percaya bahwa biaya konstruksi akan semakin akurat seiring dengan semakin matangnya desain.


Semakin banyak hal yang telah didefinisikan dalam dokumentasi esain, semakin jelas pula bagi owner maupun kontraktor apa yang sebenarnya sedang dihitung dalam sebuah penawaran. Ketergantungan pada asumsi menjadi lebih sedikit, keputusan yang belum terselesaikan berkurang, dan kemungkinan munculnya perubahan yang tidak terduga selama konstruksi dapat diminimalkan.


Ruang kontrol modern dengan deretan monitor; seorang pria berjalan di kanan, layar besar menampilkan ZENTARA.

Mengapa “Free Design” Sebenarnya Tidak Benar-Benar Gratis?


Pendekatan lain yang kami temui di pasar Indonesia adalah memasukkan pekerjaan desain awal tanpa design fee secara gratis sebagai bagian dari proposal konstruksi.

Ada alasan komersial yang dapat dipahami di balik pendekatan ini. Sebuah perusahaan ingin menunjukkan apa yang dapat mereka tawarkan sebelum owner berkomitmen terhadap proyek.


Namun, kenyataannya desain membutuhkan sumber daya profesional.


Seseorang tetap harus memahami kebutuhan proyek, mengembangkan layout, membuat gambar, menghasilkan visualisasi, melakukan riset material, dan menyusun proposal biaya konstruksi atau Rencana Anggaran Biaya (RAB).


Apakah pekerjaan desain tersebut ditampilkan sebagai biaya terpisah atau dimasukkan ke dalam bagian lain dari proposal komersial, sumber daya yang dibutuhkan untuk mengerjakannya tetap ada.


Perusahaan design-built pada umumny memiliki tim desain junior yang mengembangkan konsep secara relatif cepat untuk memberikan proyek; dan ada pula yang menggunakan pendekatan desain yang terus menggunakan desain yang sudah diterapkan pada proyek serupa sebelumnya. Ini tidak salah.


Namun owner harus memahami:


Apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh proses desain tersebut?


Apakah tujuannya terutama untuk menentukan arah visual dan mendapatkan harga konstruksi?


Atau apakah tujuannya adalah mengembangkan lingkungan arsitektur atau interior yang memiliki karakter tersendiri melalui proses desain yang terstruktur, dengan detail yang secara bertahap diselesaikan sebelum konstruksi dimulai?


Keduanya merupakan tujuan yang berbeda.


Memahami perbedaan ini sejak awal dapat membantu owner memilih pendekatan pelaksanaan proyek yang paling sesuai dengan kebutuhannya.


Seorang wanita duduk di sofa ruang tunggu spa pastel, dua resepsionis bekerja di meja, suasana tenang dan mewah.

Mengapa INSADA Memulai dari Desain?


Di sinilah pendekatan INSADA berbeda.


INSADA pada dasarnya adalah konsultan arsitektur dan desain interior.


Didirikan di Jakarta pada tahun 1990, kami telah mengerjakan berbagai jenis proyek dengan rentang budget yang sangat luas. Kami telah merancang rumah, kantor, proyek hospitality, fasilitas healthcare, ruang komersial, hingga pengembangan mixed-use. Dalam beberapa proyek, owner kemudian menunjuk INSADA untuk melanjutkan hingga tahap konstruksi.


Desain adalah disiplin utama kami.


Karena itu, kami tidak memulai proyek terutama dari pertanyaan seberapa cepat sebuah konsep dapat diubah menjadi proposal konstruksi. Kami memulainya dengan memahami apa yang sebenarnya perlu dicapai oleh proyek tersebut, kemudian mengembangkan desain secara bertahap hingga arsitektur atau interiornya cukup matang untuk didokumentasikan dan dibangun dengan baik.


Hal ini juga menjelaskan mengapa kami terkadang berhati-hati ketika calon klien meminta harga konstruksi di tahap paling awal proyek.


Bukan karena kami tidak memahami biaya konstruksi.


Justru karena pengalaman kami mencakup proyek dengan rentang budget yang sangat luas, kami memahami bahwa angka awal, sebelum desain dikembangkan dengan baik, sering kali masih merupakan sebuah asumsi.


Bagi kami, pertanyaan yang lebih tepat adalah:


“Apa yang sebenarnya kita desain, bagaimana proyek ini akan dibangun, kualitas seperti apa yang diharapkan, dan keputusan apa saja yang perlu ditentukan sebelum biayanya dapat dipahami dengan baik?”


Inilah alasan proses kami bersifat design-focused.


Kami percaya desain membutuhkan waktu dan pengembangan yang cukup untuk menentukan bukan hanya seperti apa proyek akan terlihat, tetapi juga bagaimana proyek tersebut berfungsi, bagaimana cara membangunnya, bagaimana berbagai sistemnya dikoordinasikan, material dan finishing apa yang diperlukan, dan pada akhirnya apa yang sebenarnya sedang diinvestasikan oleh owner.


Jadi, perbedaannya bukan sekadar apakah sebuah perusahaan dapat design and build.

Baik perusahaan design-build maupun INSADA pada prinsipnya dapat membawa sebuah proyek dari konsep hingga konstruksi.


Perbedaannya adalah apa yang menjadi pusat dari proses tersebut.


Bagi INSADA, pusatnya adalah desain.


Untuk memahami apa artinya dalam praktik, kita dapat melihat bagaimana salah satu proyek kami berkembang dari konsep awal hingga menjadi dokumen yang siap dibangun.


Perempuan berbusana putih berjalan di lorong modern berlampu hangat, dinding kayu dan panel merah bermotif.

Dari Konsep hingga Konstruksi: Proses INSADA


Contoh yang baik untuk melihat pendekatan ini adalah Zentara dan Oora Beauty Clinic, sebuah proyek workspace dan retail.


Di kedua proyek, pada awalnya, klien datang kepada INSADA dengan kebutuhan yang mengarah pada proyek design-build. Namun, karena proyek tersebut membutuhkan identitas yang kuat dan berbeda untuk lingkungan kerja mereka, kami menyarankan agar proyek dimulai melalui proses desain yang lebih komprehensif.


Klien menyetujui pendekatan tersebut.


Setelah proposal jasa desain kami disetujui, proyek kemudian dikembangkan melalui empat tahap utama:


Conceptual Design → Schematic Design → Design Development → Construction Drawings


Setiap tahap secara bertahap menerjemahkan aspirasi owner menjadi proyek yang semakin terdefinisi, terkoordinasi, dan siap dibangun.


1. Conceptual Design: Menentukan Arah


Tahap Conceptual Design dimulai dengan memahami kebutuhan klien, program ruang, kondisi eksisting, dan aspirasi proyek.


Jika tersedia, INSADA mempelajari informasi seperti gambar arsitektur eksisting, gambar struktur, gambar mekanikal dan elektrikal, as-built drawings, serta informasi relevan lainnya.

Dari sana, kami mulai mengembangkan konsep desain.


Untuk proyek interior, hal ini dapat mencakup perencanaan ruang, arah desain furniture, material palette, skema warna, konsep lighting, serta karakter dan identitas keseluruhan ruang.


Tahap ini bukan sekadar membuat sebuah ruang terlihat menarik. Tujuannya adalah menerjemahkan aspirasi owner menjadi sebuah lingkungan yang merespons bagaimana ruang tersebut benar-benar akan digunakan.


Fungsi, sirkulasi, operasional, kebutuhan teknis, material, maintenance, dan pengalaman pengguna perlu dipertimbangkan bersamaan dengan aspek estetika.


Namun, pada tahap ini banyak keputusan teknis masih dalam proses pengembangan.

Karena itu, kami tidak menganggap Conceptual Design saja sudah cukup untuk menghasilkan biaya konstruksi yang benar-benar komprehensif.


Konsep dapat menentukan arah sebuah proyek.


Namun, konsep belum menentukan seluruh kebutuhan konstruksinya.


Wanita berbaju putih mencuci tangan di kamar mandi pastel mewah, bercermin di cermin oval, suasana tenang dan hangat.

2. Schematic Design: Mengkoordinasikan Proyek


Setelah elemen utama dari konsep disetujui, proyek masuk ke tahap Schematic Design.

Pada tahap ini, desain mulai didefinisikan secara lebih teknis dan dikembangkan menjadi paket gambar yang terkoordinasi, yang dapat mencakup:

  • Architecture Floor Plans – menentukan posisi dinding dan sistem konstruksinya.

  • Finish Floor Plans – menentukan material, pola, dan layout lantai.

  • Reflected Ceiling Plans – mengoordinasikan material dan elevasi ceiling, lighting, grill HVAC, dan elemen ceiling lainnya.

  • Mechanical & Electrical Plans – menentukan posisi power outlet, switch, lighting, serta kebutuhan teknis terkait.

  • Furniture Plans – menentukan posisi dan tipologi loose furniture.


Salah satu tujuan utama tahap ini adalah koordinasi.


Arsitektur dan desain interior tidak berdiri sendiri dari sistem teknis sebuah bangunan. Sprinkler, smoke detector, HVAC, electrical services, dan kebutuhan teknis lainnya harus dapat berjalan bersama dengan desain.


Sebagai contoh, posisi sprinkler atau smoke detector seharusnya tidak sekadar ditempatkan di mana terdapat ruang setelah desain ceiling selesai. Elemen tersebut perlu dikoordinasikan dengan komposisi ceiling, lighting, HVAC, dan elemen lainnya.


Paket Schematic Design memberikan kerangka yang lebih jelas bagi konsultan dan pihak terkait untuk mengembangkan pekerjaan mereka.


3. Design Development: Mendefinisikan Detail


Design Development merupakan tahap ketika banyak detail penting proyek mulai ditetapkan.

Schematic Design dikembangkan lebih jauh melalui pertimbangan teknis, koordinasi dengan konsultan, serta keputusan-keputusan yang dibuat oleh owner dan tim desain.


Hal ini dapat mencakup:

  • Interior elevations dan sections

  • Detail dinding dan partisi

  • Spesifikasi material dan fabric

  • Detail pintu dan hardware

  • Detail furniture dan joinery

  • Spesifikasi ironmongery

  • Detail ceiling dan lighting

  • Construction assemblies

  • Detail lain yang spesifik terhadap proyek


Tujuannya adalah secara bertahap mengurangi ambiguitas.


Gambar desain yang baik seharusnya tidak hanya menunjukkan seperti apa sesuatu terlihat.


Gambar tersebut perlu memberikan informasi yang cukup agar pihak terkait memahami apa yang dimaksud, bagaimana elemen tersebut dirakit, dan bagaimana seharusnya dikerjakan.


Semakin banyak detail yang telah diselesaikan, semakin sedikit kontraktor harus bergantung pada asumsi ketika menyusun proposal konstruksi.


Karena itu, akhir dari tahap Design Development merupakan waktu yang jauh lebih tepat untuk menyusun biaya konstruksi secara komprehensif.


Bar rumah mewah dengan dua kursi, rak kayu berisi gelas dan vas warna-warni, suasana hangat dan elegan.

Merancang Dengan Mempertimbangkan Budget


Owner tentu ingin mengetahui biaya konstruksi sedini mungkin.


Namun, angka yang diperoleh terlalu awal belum tentu menjadi angka yang bermakna apabila berbagai aspek desain masih belum ditentukan.


Pada akhir Design Development, lebih banyak bagian proyek telah ditentukan dan dikoordinasikan. Kontraktor yang memiliki kualifikasi dapat menyusun penawaran berdasarkan kebutuhan yang telah terdokumentasi, bukan terutama berdasarkan asumsi.

Hal ini bukan berarti desain tidak dapat berubah lagi.


Jika proposal kontraktor menunjukkan bahwa proyek berada di atas budget yang direncanakan, desain dapat ditinjau kembali secara strategis.


Material dapat dipertimbangkan kembali. Metode konstruksi dapat dioptimalkan. Detail tertentu dapat disederhanakan. Prioritas dapat ditentukan kembali.


Tujuannya adalah mengelola biaya tanpa mengorbankan design intent utama secara tidak perlu.


Karena itu, kami mendorong owner untuk terbuka mengenai budget yang sebenarnya.

Transparansi mengenai budget memungkinkan tim desain membuat keputusan yang tepat sepanjang proses, daripada mengembangkan desain berdasarkan angka asumsi dan baru mengetahui kondisi finansial sebenarnya setelah desain selesai.


Prinsip yang sama juga berlaku ketika memilih kontraktor.


Penawaran dengan harga terendah tidak selalu berarti biaya proyek secara keseluruhan akan menjadi yang paling rendah apabila kemudian muncul perubahan, substitusi, keterlambatan, atau pekerjaan perbaikan.


Pengalaman yang relevan, kemampuan teknis, kualitas workmanship, sumber daya, project management, serta kemampuan memahami dan melaksanakan dokumentasi konstruksi semuanya dapat memengaruhi hasil akhir.


Pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya:


“Siapa yang memberikan harga paling rendah?”


Melainkan:


“Berapa investasi yang tepat untuk mencapai hasil yang memang ingin kita capai?”


Ruang makan mewah dengan meja siap saji, kursi krem, tirai emas, anggrek putih, dan serbet bertulisan Belcanto.

Ketika INSADA Juga Menangani Konstruksi


Setelah desain dikembangkan dan didokumentasikan, owner dapat menunjuk kontraktor yang sesuai untuk melaksanakan proyek.


Namun, owner juga dapat menunjuk INSADA untuk melanjutkan hingga tahap konstruksi.

Dalam situasi ini, peran kami berkembang dari konsultan desain menjadi pelaksana konstruksi, tetapi prinsip dasarnya tetap sama:


Design intent harus dapat diterapkan hingga menjadi hasil akhir yang nyata.


Karena tim konstruksi kami bekerja berdasarkan dokumentasi desain yang kami kembangkan, terdapat hubungan yang erat antara keputusan desain dan pelaksanaannya di lapangan.

Hal ini menjadi semakin penting ketika berhubungan dengan material dan finishing khusus.


Menjaga Ketersediaan Material


Material interior di Indonesia sering kali memiliki kondisi running stock dan ketersediaan yang dapat berubah.


Fabric, wallcovering, tile, veneer, atau finishing lain yang ditentukan pada tahap Design Development belum tentu masih tersedia beberapa bulan kemudian ketika konstruksi mencapai tahap tersebut.


Karena itu, setelah INSADA ditunjuk untuk menangani konstruksi dan construction down payment telah diterima, salah satu prioritas kami adalah mengidentifikasi dan mengamankan material-material penting sejak awal.


Hal ini membantu menjaga design intent dan mengurangi kemungkinan harus melakukan substitusi di saat terakhir hanya karena material yang telah ditentukan sebelumnya sudah tidak tersedia.


Ini mungkin terlihat seperti bagian kecil dari proses konstruksi, tetapi dapat memberikan pengaruh besar terhadap hasil akhir interior.


Lorong mewah hitam-emas dengan lantai marmer mengilap, lampu gantung, cermin, dan lukisan dinding bergaya elegan.

Memahami Bagaimana Sebuah Finishing Harus Dibangun


Design intent juga berkaitan dengan pemahaman terhadap proses di balik sebuah finishing.

Sebagai contoh, veneer.


Untuk menghasilkan finishing veneer yang konsisten dan refined, dibutuhkan persiapan substrate yang tepat, teknik aplikasi, peralatan, serta kondisi kerja yang sesuai.

Tidak semua finishing sebaiknya dikerjakan di workshop sederhana.


Bagian dari tanggung jawab kami adalah memahami kemampuan konstruksi kami sendiri dan mengetahui kapan sebuah pekerjaan lebih tepat dikerjakan oleh workshop spesialis atau menggunakan metode produksi tertentu.


Tujuannya bukan memaksakan semua pekerjaan dikerjakan di fasilitas kami sendiri hanya karena kami bisa melakukannya.


Tujuannya adalah menentukan metode dan kemampuan yang tepat untuk menghasilkan hasil akhir yang sesuai dengan design intent.

Pengetahuan praktis seperti ini membuat desain tetap terhubung dengan realitas konstruksi.


Ruang makan elegan dengan meja marmer, kursi hijau toska, lampu gantung, bunga putih, dan lukisan wanita bergaun biru.

Construction Drawings: Menerjemahkan Desain Menjadi Dokumen yang Siap Dibangun


Proses desain tidak berhenti ketika kontraktor telah ditentukan.


Dalam proses tender dan persiapan konstruksi, dapat terjadi berbagai keputusan terkait material, spesifikasi, biaya, metode konstruksi, maupun aspek proyek lainnya.

INSADA kemudian memperbarui dokumentasi untuk mencerminkan keputusan yang telah disepakati.


Dokumen For Construction yang dihasilkan menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Dengan demikian, terdapat sebuah kesinambungan dari konsep awal hingga lingkungan yang akhirnya terbangun:


Conceptual Design → Schematic Design → Design Development → Construction Documentation → Construction


Pada setiap tahap, tujuannya adalah secara bertahap mengurangi ketidakpastian sambil tetap mempertahankan kualitas yang membuat konsep awal tersebut memiliki nilai.


Lounge modern putih-biru dengan sofa, kursi, meja bundar, TV menampilkan tangan memegang uang, logo Sekuritas Sinarmas.

Mengapa Proses yang Design-Centered Penting?


Inilah yang pada akhirnya kami maksud ketika menyebut INSADA sebagai konsultan arsitektur dan desain interior yang design-focused.


Kami tidak percaya bahwa setiap proyek harus mengikuti model pelaksanaan yang sama. Jenis proyek, budget, jadwal, kebutuhan operasional, dan tujuan masing-masing owner dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda.


Peran kami adalah memahami kebutuhan tersebut dan menentukan proses yang paling sesuai.

Pada beberapa proyek, tanggung jawab INSADA dapat selesai pada tahap dokumentasi desain yang komprehensif, kemudian kontraktor eksternal melaksanakan konstruksinya. Pada proyek lainnya, owner dapat menunjuk INSADA untuk melanjutkan hingga konstruksi, sehingga tim kami dapat membawa design intent tersebut hingga selesai.


Dalam kedua kondisi tersebut, fondasi kami tetap sama:


Kami mendesain terlebih dahulu. Kami mengembangkan detailnya. Kami mengoordinasikan proyek. Kami mendokumentasikan design intent. Dan ketika ditunjuk untuk membangun, kami membawa pemikiran tersebut hingga ke tahap konstruksi.


Kami percaya proses yang design-centered pada akhirnya memberikan nilai yang lebih besar bagi owner.


Proses ini menghasilkan proyek yang lebih refined dan lebih matang, karena arsitektur dan desain interior memiliki kesempatan untuk berkembang dari sekadar konsep awal menjadi lingkungan yang benar-benar terdefinisi dan terintegrasi.


Proses ini juga memberikan kejelasan yang lebih besar selama konstruksi, karena lebih banyak keputusan telah ditetapkan dan didokumentasikan sebelum pekerjaan dimulai. Hal ini mengurangi kemungkinan munculnya substitusi yang tidak terduga, detail yang belum terselesaikan, atau implikasi biaya yang muncul hanya karena sesuatu belum pernah didefinisikan dengan jelas.


Yang paling penting, proses ini memungkinkan investasi owner memberikan kontribusi pada sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar menyelesaikan sebuah bangunan atau interior.


Sebuah proyek yang dirancang dengan baik seharusnya dapat menambah value pada properti itu sendiri—melalui identitas yang lebih kuat, fungsi yang lebih baik, kenyamanan yang lebih tinggi, pemilihan material yang lebih thoughtful, pengalaman pengguna yang lebih baik, serta tingkat refinement yang dapat dirasakan pada lingkungan yang telah selesai.

Tujuannya bukan sekadar membuat sebuah properti ada.


Tetapi membuatnya lebih baik daripada sebelumnya.


Itulah mengapa, bagi INSADA, desain tetap menjadi pusat dari proses kami—mulai dari percakapan pertama dengan owner, pengembangan desain, dokumentasi konstruksi, hingga, ketika kami ditunjuk, pelaksanaan konstruksi sampai selesai.


Dari arsitektur dan desain interior hingga konstruksi, proses kami dirancang bukan hanya untuk menghasilkan proyek yang selesai, tetapi untuk menciptakan proyek yang lebih matang, refined, dan memiliki nilai yang lebih tinggi.


Ruang tunggu modern dengan sofa biru, kursi krem, dan layar Market Watch; seseorang buram melintas di belakang kaca.

Jelajahi Proyek Desain & Konstruksi INSADA


Untuk melihat bagaimana pendekatan design-focused kami berlanjut hingga tahap konstruksi, berikut beberapa proyek yang telah kami selesaikan dari berbagai sektor:

  • Workspace: Lihat Zentara, proyek kantor kami di Serpong, di mana identitas workplace yang kuat dikembangkan mulai dari konsep hingga konstruksi.

  • Retail & Beauty: Jelajahi Oora Skin Labs, interior beauty and wellness di Jakarta, di mana desain, material, dan konstruksi dikembangkan sebagai satu proses yang terintegrasi.

  • Residential: Lihat House 13, hunian modern tropis di Jakarta Barat yang menunjukkan bagaimana arsitektur, desain interior, dan konstruksi dapat disatukan menjadi sebuah proyek yang kohesif.


Lihat Lebih Banyak Proyek

Untuk melihat lebih banyak gambar dan informasi mengenai proyek:


Pelajari Lebih Lanjut Tentang INSADA

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai layanan arsitektur dan desain interior, pengalaman proyek, serta pendekatan design-focused INSADA, kunjungi INSADA Integrated Design Team.

Jika Anda sedang merencanakan proyek arsitektur, desain interior, renovasi, atau konstruksi dan ingin mendiskusikan bagaimana INSADA dapat membantu, hubungi INSADA.

Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
bottom of page